top of page
Cari
  • zcelebescommunity

Kodok Sulawesi

Ingerophrynus celebensis (Günther, 1859)


Spesies endemik ini tersebar di pulau Sulawesi, Muna, Buton dan Banggai (IUCN, 2021). Mereka dapat dijumpai di semua tipe habitat, seperti area terbuka, lahan budidaya, perkebunan, hutan sekunder, hingga hutan primer (Wanger et al. 2010; Putri et al. 2019). Sebuah catatan terbaru menunjukkkan, mereka dapat ditemukan pada ketinggian mencapai 1700 mdpl (Kurniati & Laksono, 2021). Spesies ini juga merupakan predator endemik yang menyediakan jasa ekosistem yang penting, seperti ketahanan terhadap invasi dan pelestarian keanekaragaman serangga asli (Wanger et al., 2011). Oleh karena itu, keberadaannya yang melimpah di perkebunan Kakao (Wanger et al., 2009), mungkin dapat meningkatkan hasil panen, tetapi penelitian lebih lanjut tentu saja diperlukan (Wanger et al., 2011).


Evans et al. (2003) dalam laporannya menggambarkan tujuh daerah endemik (areas of endemism) yang sangat sesuai yang dimiliki oleh Monyet (Macaca spp.) dan Kodok Sulawesi, dengan menghasilkan filogeni intraspesifik dari Ingerophrynus celebensis dan membandingkannya dengan zona kontak spesies dan populasi monyet Sulawesi. Dua pengecualian untuk distribusi geografis yang sesuai dari endemisme monyet dan mtDNA kodok terdapat di Northeast di mana sekuen kodok N (Northeast) mengelompok dengan O (North Central) daripada P (Northeast), dan di Northwest di mana urutan katak J melintasi zona kontak dari West Central ke dasar daerah Northwest (Slide 2). Selain itu, pemisahan awal pada sekuen mtDNA Kodok Sulawesi menunjukkan bahwa nenek moyang takson ini mungkin pertama kali tiba di semenanjung utara Sulawesi. Analisis mtDNA kodok, morfologi monyet, autosomal monyet dan DNA kromosom Y menunjukkan pola biogeografis yang hampir sama, sehingga area endemik pun hampir sama persis (pada monyet dan kodok). Dengan demikian, hasil ini memfasilitasi pemahaman tentang biogeografi dan genetika konservasi fauna Sulawesi.

Referensi

Evans, B. J., Supriatna, J., Andayani, N., Setiadi, M. I., Cannatella, D. C., & Melnick, D. J. (2003). Monkeys and toads define areas of endemism on Sulawesi. Evolution, 57(6), 1436–1443.


IUCN. 2021. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2021-3. https://www.iucnredlist.org. Accessed on July 2022.

Kurniati, H., & Laksono, W. T. (2021). Frogs Diversity of the Mekongga Mountains , Southeast Sulawesi , Indonesia, and Notes on Vocally Distinct Species ). Jurnal Biologi Indonesia, 17(1), 27–38.


Putri, A. A., Fahri, F., Annawaty, A., & Hamidy, A. (2019). Ecological investigations and diversity of amphibians in Lake Kalimpa’a, Lore Lindu National Park, Central Sulawesi. Journal of Natural History, 53(41–42), 2503–2516.


Wanger, T. C., Iskandar, D. T., Motzke, I., Brook, B. W., Sodhi, N. S., Clough, Y., & Tscharntke, T. (2010). Effects of Land-Use Change on Community Composition of Tropical Amphibians and Reptiles in Sulawesi, Indonesia. Conservation Biology, 24(3), 795–802.


Wanger, T. C., Saro, A., Iskandar, D. T., Brook, B. W., Sodhi, N. S., Clough, Y., & Tscharntke, T. (2009). Conservation value of cacao agroforestry for amphibians and reptiles in South-East Asia: combining correlative models with follow-up field experiments. Journal of Applied Ecology, 46, 823–832.


Wanger, T. C., Wielgoss, A. C., Motzke, I., Clough, Y., Brook, B. W., Sodhi, N. S., & Tscharntke, T. (2011). Endemic predators, invasive prey and native diversity. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 278, 690–694.



33 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page